Breaking News
Kisah Haru Santri Asal Papua di Demak, Dulu Sering Dibully

Kisah Haru Santri Asal Papua di Demak, Dulu Sering Dibully

Beritagan.com –

Hidup jauh dari orang tua memang berat. Tidak hanya harus hidup mandiri, seseorang juga harus mampu menahan rasa rindu yang begitu besar.

Demikian halnya dengan Riberry Siras alias Mukhlis (17). Santri asal suku Asmat Papua ini harus rela tinggal jauh dari orang tuanya di Papua untuk menimba ilmu di Pesantren La Tansa, Cangkring, Kabupaten Karanganyar, Demak.

Pada awalnya tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa beliau akan menjalani kehidupan masa mudanya dengan masuk Islam kemudian mempelajari ajaran Islam dengan menjadi santri. Bersama 11 pemuda Papua lainnya, ia berlayar ke tanah Jawa agar menjadi pribadi yang lebih baik dalam menguasai dan mengikuti tuntunan agama.

Sejak memutuskan masuk Islam, Mukhlis harus rela berkorban belajar agama dari nol dengan meninggalkan kampung halamannya dan menetap di negeri perantauan. Awalnya ia berangkat dari Papua bersama 11 pemuda dari desanya.

Namun setelah ditinggal sendirian, Mukhlis tak kuasa menahan air mata. Berbulan-bulan ia terus meratap, merasa khawatir berada di negeri asing tanpa ada orang yang ia kenal.

“Tapi yang menangis waktu kecil. Sekarang saya sudah dewasa,” kata Mukhlis.

Sebelum tiba di Pesantren La Tansa Demak, Mukhlis dan rekan-rekannya dari Papua kerap menjadi korban perundungan. Untungnya saat ini dia tidak lagi mendapat perlakuan negatif seperti itu.

Namun saat keluar dari pondok, ia selalu menjadi pusat perhatian sesama mahasiswa asal Papua lainnya.

“Rasanya insecure banget. Terasa beda. Makanya saya suka lihat ke bawah saja.”

Setelah tinggal di Demak, Mukhlis merasa tenteram menjalani kesehariannya di Pesantren La Tansa sambil belajar agama. Tak hanya Mukhlis, ada 30 mahasiswa lain asal Papua yang belajar di sana.

Meski banyak teman dari daerah asal, terkadang rasa rindu orang tua tak tertahankan. Dia sudah lama tidak berhubungan dengan orang tuanya. Telepon terakhir yang dia terima adalah dari ayahnya setahun yang lalu.

“Mamak tidak bisa mendengar suaraku saat dipanggil. Aku rindu ibuku. Aku bertemu dengannya saat masih kecil,” kata Mukhlis.




Sumber Berita : viralpedia.id

About ANDRIAN KANAMOTO

Check Also

Kisah Haru Kakek 80 Tahun ini, Hidup Sebatang Kara dan Tidak Bisa Berjalan

Kisah Haru Kakek 80 Tahun ini, Hidup Sebatang Kara dan Tidak Bisa Berjalan

Beritagan.com – Selama tiga tahun terakhir, Mbah Repat tinggal sebatang kara di sebuah rumah di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *