Breaking News
Kisah Perjuangan Ibu Romlah, Jalan Puluhan Kilo Jualan Gorengan Demi Hidupi Anak dan Cucu

Kisah Perjuangan Ibu Romlah, Jalan Puluhan Kilo Jualan Gorengan Demi Hidupi Anak dan Cucu

Beritagan.com –

Di masa tuanya, Mak Romlah selalu semangat untuk orang yang dicintainya.

Bagi sebagian orang, hidup tidak seindah yang dibayangkan. Bekerja keras demi orang tersayang, tak kenal lelah. Semacam Mak Romlah. Mengutip dari Kompas. com, perjuangannya mencari nafkah begitu mengharukan.

Mak Romlah hanyalah seorang penjual gorengan. Namun, dia harus berjalan puluhan ribu kali di tengah hari yang panas untuk menghasilkan uang. Ia berjualan di Semarang, sebaliknya ia berasal dari Desa Rambeanak, Kabupaten Magelang.

Dia memiliki seorang putra dan seorang cucu. Anaknya hanya seorang cilok, dan istrinya hanya berjualan pecel. Mau tidak mau, Mak Romlah yang berusia 55 tahun ini harus mencari nafkah untuk membantu menghidupi orang-orang yang dicintainya.

Berjalan puluhan km, Mak Romlah tidak banyak mendapatkan hasil.

“Jualan gorengan untungnya tidak banyak. Kalau sepi bisa untung, hanya Rp 15.000 untuk makan masih kurang. Kalau sibuk bisa mengumpulkan Rp 40.000 untuk makan setiap hari dan untuk hidup anak-anak saya dan 2 cucu di Magelang. Juga untuk membayar kontrakan rumah di Semarang,” ujarnya.

Memiliki Masa Lalu yang Menyakitkan

Tidak hanya itu. Mak Romlah juga memiliki masa lalu yang menyakitkan. Pasca erupsi Gunung Merapi tahun 2010, orang tuanya meninggal.

Saat masih kecil, Mak Romlah juga tengah berbadan dua. Namun, suaminya malah meninggalkannya. Ia juga bekerja di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga, dan bekerja di berbagai kota. Dia bekerja tidak hanya untuk dirinya dan anak-anaknya tetapi juga untuk orang tuanya.

“Saat itu masih dua badan, ditinggal suaminya. Bekerja di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga, sempat menjaga toko, merawat orang tua yang sakit. Saatnya melahirkan kembali ke kampung. Kemudian mulai bekerja lagi. Saya bekerja apa saja yang saya inginkan karena orang tidak memilikinya. Pernah bekerja di Serbu, Banten, Malang, Kalimantan dan saat ini di Semarang. Saat itu uang dikumpulkan untuk membantu orang tua karena hidup mereka kurang,” katanya. Apalagi, Mak Romlah sedih mendengar suaminya yang menikah lagi dengan wanita lain meninggal karena tenggelam saat bekerja di industri perkapalan.

“Setelah berpisah, suami tidak pernah menikah lagi. Dia bekerja di kapal sebagai kuli barang, tapi meninggal karena tenggelam,” katanya sambil menahan emosi.

Kini, di usia senjanya, ia selalu berjuang dan tidak menangis meski hidupnya cukup sulit, meski hanya dengan berjualan gorengan.

“Padahal jualan ini (goreng) berarti tidak berhutang. Saya ditawari jualan lapak tapi tidak ada bayarannya. Wes jualan ini saja sudah bagus artinya sehat dan tidak nyangka. Soal utang. Saya lihat dua cucu saya senang, saya juga senang,” ujarnya.




Sumber Berita : viralpedia.id

About ANDRIAN KANAMOTO

Check Also

Kisah Haru Kakek 80 Tahun ini, Hidup Sebatang Kara dan Tidak Bisa Berjalan

Kisah Haru Kakek 80 Tahun ini, Hidup Sebatang Kara dan Tidak Bisa Berjalan

Beritagan.com – Selama tiga tahun terakhir, Mbah Repat tinggal sebatang kara di sebuah rumah di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *